Wednesday, 2 October 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Tujuan Pembelajaran 

CGP Menyimpulkan dan menjelakan keterkaitan materi yang diperoleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun selama modul 2 dalam berbagai media

Pemikiran Reflektif Terkait Pengalaman Belajar

Dalam Modul 2.3 ini saya mempelajari tentang supervisi akademik yang bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri dalam setiap pendidik di sekolah. Pendekatan yang digunakan adalah coaching yang memiliki 3 prinsip yaitu kemitraan, proses kreatif dan memasimalkan potensi. Kompetensi inti coaching yang harus dimiliki diantaranya kehadiran penuh (presence), mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan berbasis coaching menggunakan alur TIRTA yaitu Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggung Jawab. Terdapat 3 tahapan dalam supervisi akademik yaitu pra observasi (perencanaan), observasi (pelaksanaan) dan pasca observasi (tindak lanjut).

Emosi-Emosi Yang Dirasakan Terkait Pengalaman Belajar

Cemas
Sebelum mengetahui isi materi dalam modul ini, saya sedikit cemas karena khawatir tidak mampu dalam memahami dan mengaplikasikannya.

Tertarik
Setelah mempelajari dalam eksplorasi konsep, saya mulai tertarik dalam mendalami isi dari modul ini

Gembira
Saya merasa gembira saat mampu melakukan praktik coaching bersama rekan CGP dalam ruang kolaborasi dan demonstrasi kontekstual

Optimis
Saya optimis untuk mampu mengaplikasikannya di sekolah tempat saya mengajar

Apa yang sudah baik berkaitan dengan keterlibatan diri dalam proses belajar

Saya mampu berkolaborasi dengan rekan sesama CGP saat mempraktikkan proses coaching menggunakan alur TIRTA dan sesuai dengan prinsip coaching dalam ruang kolaborasi dan demonstrasi kontekstual baik berperan sebagai coach, coachee maupun sebagai pengamat (observer)




Apa yang perlu diperbaiki terkait dengan keterlibatan diri dalam proses belajar

Yang perlu diperbaiki adalah kemampuan dalam mengajukan pertanyaan berbobot agar dapat menggali informasi permasalahan pada diri coachee sehingga dapat menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapai

Keterkaitan Terhadap Kompetensi dan Kematangan Diri Pribadi

Setelah saya mempelajari modul 2.3 tentang coaching dalam superviai akademik, kompetensi saya mulai berkembang ditandai dengan mampi mempraktikkan proses coaching menggunakan alur TIRTA baik sebagai coach, coachee maupun pengamat.

Saat saya mempraktikkan proses coaching, saya harus mampu mengendalikan diri dari asumsi-asumsi pribadi dan rasa emosi sehingga muncul ketangan berpikir dan bertindak agar sesuai dengan prinsip coaching yaitu kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi.

Analisis Untuk Implementasi Dalam Konteks CGP

Memunculkan Pertanyaan Kritis Yang Berhubungan Dengan Konsep Materi dan Menggalinya Lebih Jauh.

Bagaimana Agar Prinsip Coaching Dapat Diterapkan Dalam Kegiatan Supervisi Di Sekolah ?

Prinsip coaching dapat diterapkan jika kepala sekolah memiliki pengetahuan tentang coaching dalam supervisi akademik dan mau mengaplikasikannya. Kegiatan supervisi jangan hanya bertujuan sebagai bagian penilaian guru saja, namun supervisi harus dijadikan sebagai cara untuk meningkatkan kompetensi akademik guru sehingga tidak hanya melakukan observasi kelas saja tapi harus ada percakapan pra observasi dan pasca observasi. Dalam percakapan Pra Observasi kepala sekolah harus mendiskusikan perencanaan yang akan dilakukan oleh guru, sedangkan saat pasca observasi kepala sekolah memberikan umpan balik/tindak lanjut terkait pelaksanaan observasi kelas yang dilakukan guru.

Mengelola Materi Yang Dipelajari Dengan Pemikiran Pribadi Sehingga Tergali Wawasan (Insight) Baru

Coaching dalam supervisi akademik dapat berpengaruh dalam terwujudnya pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid. Pembelajaran yang berpihak pada murid adalah hal yang sangat penting untuk diterapkan dalam lingkungan sekolah. Agar dapat terwujud pembelajaran yang berpihak pada murid maka guru harus memiliki komeptensi menjadi pemimpin pembelajaran. Menjadi pemimpin pembelajaran harus memahami perkembangan murid secara menyeluruh, tidak hanya aspek kognitif saja namun juga harus memahami karakter dan sosial emosional murid dengan demikian tujuan coaching dalam supervisi akademik untuk mengembangkan kompetensi guru agar dapat meningkatkan kinerja dan terwujudnya pembelajaran yang berpihak pada murid.

Memunculkan Alternatif solusi terhadap tantangan yang diidentifikasi

Alternatif solusi yang dapat dilakukan adalah melakukan sosialisasi kepada seluruh komunitas sekolah saat kegiatan rapat guru agar terjadi penyeragaman persepsi tentang makna supervisi akademik

Solusi selanjutnya adalah dengan memberikan contoh praktik coaching dalam supervisi akademik melalui berbagai media informasi digital yang dapat di akses oleh seluruh komunitas sekolah

Menganalisis Tantangan Yang Sesuai Dengan Konteks Asal CGP (Baik Tingkat Sekolah Maupun Daerah)

Tantangan terberat adalah menyeragamkan pemahaman tentang coaching dalam supervisi akademik kepada komunitas sekolah

Supervisi Akademik hanya dijadikan sebagai penilaian rutin kepala sekolah kepada guru saja. Seharusnya dapat dijadikan aebagai pedoman untuk meningkatkan kompetensi guru

Membuat Keterhubungan

Pengalaman Masa Lalu

Saya pernah di supervisi oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah, namun kegiatan supervisi tersebut hanyalah sebatas menjalankan kewajiban saja tanpa mengetahui makna superviai yang sebenarnya. Kegiatan supervisi akademik hanya dilakukan saat kepela sekolah/pengawas melakukan observasi kelas saja tanpa adanya kegiatan pra observasi dan pasca observasi. Sehingga hanya sebatas pemberian nilai guru saja.

Penerapan Di Masa Mendatang

Kedepan kegiatan supervisi ini harus dijadikan salah satu bagian dalam peningkatan kompetensi guru dalam bidang akademik dengan menggunakan prinsip coaching yaitu kemitraan, proses kreatif dan memaksimalkan potensi.

Konsep atau Praktik Baik Yang Dilakukan dari Modul Lain Yang Telah Dipelajari.

Modul 2.1
Dalam pembelajaran berdiferensiasi, murid dikelompokkan berdasarkan kebutuhan belajarnya agar dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki, begitupula dengan praktik coaching, yang harus memaksimalkan potensi coachee agar dapat menemukan sendiri solusi atas permasalahan yang dihadapi

Modul 2.2 
Dalam pembelajaran sosial emosional terdapat teknik STOP dan mindfulness yang dilakukan untuk dapat membuat suasana menjadi lebih kondusif. Saat melakukan coaching pun seorang coach harus menerapkan teknik tersebut agar dapat fokus dan terwujud kehadiran penuh saat melakukan proses coaching.

Modul 2.3
Coaching untuk supervisi akademik

Informasi Yang Didapat Dari Orang Atau Sumber Lain Di Luar Bahan Ajar PGP

Faktor Utama Pelaksanaan Supervisi Akademik Oleh Kepala Sekolah :

Kesadaran Kepala Sekolah akan kompetensi supervisi yang harus dijadikan semangat dan dukungan oleh para guru. Coaching yang diberikan kepala sekolah akan memberikan pengaruh pada proses pembelajaran. Suasana kebersamaan sekolah yang mendukung bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun kinerja lebih maksimal dan kegiatan superviai akan berjalan dengan nyaman.

Putra, Adhitya Dwi. “Penerapan Coaching untuk Meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah dalam Supervisi Akademik” Diaksise pada Selasa, 01 Oktober 2024. https://osf.io/preprints/inarxiv/5hc4b/download

TERIMAKASIH

Sunday, 1 September 2024

Koneksi Antar Materi Pembelajaran Berdiferensiasi

Apa itu pembelajaran berdiferensiasi ?

Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru dalam menyesuaikan proses pembelajaran dikelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran untuk mendukung semua murid di kelas kita karena setiap anak itu unik mereka punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, begitu pula dengan minat, gaya belajar, kebiasaan, pola pikir dan lain sebagainya. Nah disinilah diperlukan usaha guru untuk dapat memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda-beda agar mereka merasa nyaman saat belajar dikelas dan tentunya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Bagaimana cara untuk dapat melakukan pembelajaran berdiferensi di kelas ?

Agar dapat melakukan pembelajaran berdiferensiasi guru harus : 

  • Memahami tujuan pembelajaran
  • Mengetahui dan merespon kebutuhan belajar murid
  • Menciptakan lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar
  • Melakukan manajemen kelas yang aktif
  • Melakukan penilaian berkelanjutan
Berkaitan dengan kebutuhan belajar murid, guru harus memahami tiga aspek berikut :

  • Kesiapan Belajar Murid (Readiness) : Mengharuskan guru untuk menilai pengetahuan awal dan menentukan apa yang telah murid ketahui dan dimana murid berada
  • Profil Belajar Murid : Profil belajar murid berkaitan dengan lingkungan, budaya, gaya belajar dan kecerdasan majemuk yang berbeda antara satu anak dengan yang lainnya
  • Minat Murid : Minat setiap anak pasti berbeda-beda. Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran
Kebutuhan belajar murid dapat diidentifikasi berdasarkan cara-cara berikut ini :
  • Mengamati Perilaku Murid-murid
  • Mengidentifikasi Pengetahuan Awal
  • Meriview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran
  • Berbicara dengan guru murid sebelumnya
  • Membaca Raport murid dikelas sebelumnya
  • Menggunakan berbagai penilaian formatif dan diagnostik
Strategi untuk mendiferensiasi pembelajaran
  • Diferensiasi Konten : Berkaitan dengan apa yang kita ajarkan, seperti materi, konsep, atau keterampilan yang perlu dipelajari berdasarkan kurikulum. Mendiferensiasi konten bisa dilakukan dengan membedakan pengorganisasian atau format penyampaiannya bukan mengubah/menurunkan standar kurikulum.
  • Diferensiasi Proses : Kegiatan yang memungkinkan murid berlatih dan memahami atau memaknai konten, dengan cara membedakan proses yang harus dijalani oleh murid.
  • Diferensiasi Produk : Bukti yang menunjukkan apa yang murid telah pahami dengan cara membedakan/memodifikasi produk sebagai hasil belajar murid, hasil latihan penerapan dan pengembangan apa yang telah dipelajari
Apakah keterkaitan antara modul pembelajaran berdiferensiasi dengan modul-modul yang lain?
  • Kaitan Modul 1.1 & Modul 2.1 : Untuk dapat melakukan pembelajaran berdiferensiasi, maka guru harus berusaha memenuhi kebutuhan belajar anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman berdasarkan filosofi Ki Hadjar Dewantara
  • Kaitan Modul 1.2 & Modul 2.1 : Dalam melakukan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru penggerak harus berpihak pada murid, reflektif, mandiri, kolaboratif dan inovatif untuk menciptakan pembelajaran-pembelajaran berdiferensiasi agar dapat memenuhi kebutuhan murid. Dengan demikian seorang guru penggerak dapat mewujudkan kepemimpinan murid dengan menuntun murid merdeka belajar. Hal ini sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak.
  • Kaitan Modul 1.3 & Modul 2.1 : Pembelajaran Berdiferensiasi dapat menjadi salah satu strategi untuk mewujudkan visi guru penggerak yang berpihak pada murid
  • Kaitan Modul 1.4 & Modul 2.1 : Dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi antara guru dan murid harus ada kesepakatan kelas terlebih dahulu agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai dengan nilai-nilai budaya positif








Saturday, 7 May 2016

PANGLIMA SAMPAH BY ESA ANNISA


Ketika Langit  belum bermetamorfosis  memancarkan sinarnya dari kegelapan, Rumah-rumah penduduk masih nampak sunyi membungkam, layaknya bumi yang sedang tertidur pulas,sunyi, sepi. Hanya kumpulan anjing yang berlalu lalang mencari pengisi perut, sama seperti DIA. Sebut saja Dia dengan Tomo seorang pemulung yang sangat akrab dengan tong-tong sampah para penduduk di Desa Samalewa. Setiap harinya sebelum terbit fajar dengan karung seadanya, Tomo menapaki jalan-jalan yang  sunyi dengan penuh harapan. Harapan agar hari ini dia bisa mendapat rezeky dari apa yang orang lain bilang itu Sampah. Dia mengais satu persatu tong sampah dari rumah kerumah, memilah milah tumpukan yang layak untuk dijadikan uang. Meski kadang tak banyak yang bisa ia bawa pulang. Alunan suara ayam kini mulai menggema, menandakan Tomo sudah harus pulang dengan cepat membawa hasil jeri payahnya kerumah.
Sesampainya di rumah Tomo meletakkan karung sampahnya di tepian kursi pojok rumahnya. Dia berlari menuju kamar mandi seadanya yang terbuat dari anyaman bambu. Tak lama kemudian dia keluar mengeringkan badannya dan memakai seragam yang Ia bangga-banggakan. Nampak pada kantong seragamnya ada Badge OSIS, Yah Tomo adalah seorang siswa SMK. Ia saat ini sedang mengenyam pendidikan di SMK Negeri 1 Bungoro, sekolah idaman di kampung Tomo. Tomo sangat bersyukur bisa masuk ke SMK Negeri 1 Bungoro, di karenan SMK Negeri 1 Bungoro adalah Sekolah yang berkualitas tinggi. Tomo tak ingin menyianyiakan kesempatan yang ia dapatkan dengan susah payah itu.
Setelah lengkap mengenakan seragam sekolahnya, Tomo langsung menarik tas yang berada di lantai tempat ia mengerjakan Pekerjaan Rumahnya ( PR ) semalam. Ia pun melangkah menuju sebuah kamar yang sempit penuh dengan aroma minyak urut, di sana nampak  wanita paruh baya yang sedang terbaring lemas dengan sarung batik sebagai selimut yang menghangatkan tubuhnya.Dia adalah nenek Tomo yang bernama Sitti umurnya sudah 78 tahun, Dialah yang mengasuh Tomo sejak bayi, di karenakan kedua orang tua Tomo sudah meninggal dunia karena kecelakaan motor. Tomo dengan pelan memasuki kamar neneknya, membuka pintu dengan sangat hati-hati, karena takut mangagetkan neneknya yang sedang terbaring lemas. Dengan suara yang lemah lembut Tomo berpamitan dengan neneknya.Sembari berpamitan Tomo meraih tangan neneknya untuk salim, menandakan Ia akan berangkat ke sekolah.Dengan suara lirih, neneknya pun mengiyakan dan meminta Tomo untuk berhati-hati.
Setelah berpamitan Tomo pun keluar dari singgasana kecilnya dengan membawa karung hasil kerja kerasnya tadi subuh, untuk di timbang  ke tukang loak yang berada di perempatan sekolahnya, Sesudah Tomo menerima upah,  beranjaklah Tomo ke sekolahnya yang tak jauh dari tempat penimbangan sampah tadi.
Tak hanya di lingkungan rumahnya, di sekolahpun Tomo membantu petugas kebersihan seusai jam sekolah untuk mengumpulkan sampah yang nantinya akan di di bawa ke Bank Sampah, Tomo juga mendapat upah dari kerja sampingannya di sekolah. Dia tidak pernah merasa malu kepada teman-temannya yang melihat pekerjaannya di sekolah itu, karena hanya inilah satu-satunya pekerjaan yang dapat Ia lakukan untuk biaya sekolah, makan dan biaya obat neneknya. Menurut Tomo mengapa Ia harus malu, bukankah ini pekerjaan yang halal, bukankah yang ku ambil ini sesuatu yang sudah tak berharga untuk orang lain. Ini bukan sesuatu yang ku curi, bukan sesuatu yang ku rampas. Beginilah caraku untuk bertahan hidup. Kata Tomo’

 

   08 mei 2016